News & Artcles Archives - Page 2 of 7 - CitraGarden City Malang

Category: News & Artcles

JEMBATAN KEDUNGKANDANG SAH DIBANGUN LAGI

Keinginan wali kota Malang terpilih Sutiaji untuk melanjutkan pembangunan Jembatan Kedungkandang bak gayung bersambut. Sebab, Polres Malang Kota yang menyelidiki perkara hukum memastikan, pembangunan jembatan tersebut sudah bisa dilanjutkan. Lahan yang dipakai jembatan tersebut tidak memilki masalah hukum. Yang sedang diselidiki polres hanya masalah penganggaran tahun 2012. Kalau lahannya aman-aman saja.

Kepala Unit Pidana Khusus Polres Malang Kota Iptu Rudy Hidajanto menjelaskan, penyelidikan kasus dugaan penyelewengan anggaran tahun 2012 tidak akan menghalangi pembangunan kembali Jembatan Kedungkandang. Dia menyebut, kasus lawas itu tidak akan menghalangi pembangunan kembali Jembatan Kedungkandang. Dia menyebut, kasus lawas itu tidak berkaitan langsung dengan jembatan tersebut. Karena yang diselidiki polisi, kata dia, soal anggaran. “Kalau sekarang dianggarkan lagi dan dilakukan pembangunan jembatan, tidak masalah. Karena kasus yang kami tangani itu kan 2012,” kata pria kelahiran Jombang itu.

Pernyataan Rudy ini tentu melegakan. Sebab. selama ini Wali Kota Malang (nonaktif) Moch Anton tidak berani melanjutkan pembangunan jembatan itu karena masih terlilit masalah hukum. Sejak 2013, sebelum Anton menjabat, proyek jembatan yang dimulai tahun 2012 itu sudah mangkrak. Penggarap proyek, PT Nugraha Adi Taruna, tidak bisa melanjutkan pembangunan. Padahal, Proyek itu baru memasang tiang pancang besi. Itu pun belum dicor. Setelah proyek mangkrak, tim badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyelidiki dan mencium ada kerugian Negara. Bahkan, komisi Pembaratasan Korupsi (KPK) juga melihat ada indikasi tidak beres dari proyek jembatan tersebut. Polres Malang Kota pun turun dengan melakukan penyelidikan dugaan kerugian Negara itu. Namun, hingga kini belum kelar.

Rudy meyakinkan, penganggaran proyek jembatan tahun 2012 yang sedang diselidiki tersebut, tidak berkaitan langsung dengan penganggaran yang mungkin dilakukan tahun ini. Sehingga, dia mempersilahkan saja jika Pemkot Malang ingin menganggarkan lagi. Sebelumnya, sejak tahun 2012, jembatan ini sudah dianggarkan hingga Rp. 70 miliar. “Dibangun atau tidaknya, itu kewenangan pemerintah kota. Tugas kami menyelidiki kasus yang terjadi di tahun 2012 itu,” kata perwira dengan dua strip itu.

Bukti jika jembatan itu boleh dibangun lagi, saat perkara ini diselidiki, Polres Malang Kota tidak pernah menyita barang apa pun dari proyek jembatan itu. Juga tidak ada police line. “Untuk penyelidikan kami masih mengajukan audit investigasi ke BPKP,” imbuhnya.
Seperti diberitakan, tiga megaproyek (salah satunya Jembatan Kedungkandang) yang tidak bisa dituntaskan dua wali kota sebelumnya (Peni Suparto dan Moch. Anton) menjadi perhatian serius Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji. (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji yang akan dilantik pada September 2018 menggantikan Moch. Anton berkomitmen untuk menuntaskan ketiga proyek tersebut. Yakni Jembatan Kedungkandang, Pasar Induk Gadang dan Pasar Blimbing.

Dua dan tiga megaproyek tersebut ada di Malang Timur, yaitu Jembatan Kedungkandang dan Pasar Induk Gadang. Tentu keduanya menjadi titik penting bagi pengembangan wilayah, selain area ini juga akan menjadi semakin berkembang dengan adanya akses tol Surabaya-Malang. Segera berinvestasi di area yang paling potensial ini, hanya di CitraGarden City Malang.
CitraGarden City Malang dalam waktu dekat akan membuka Cluster Baru, “The Valley”. Lokasi New Cluster The Valley dekat dengan area SportClub dan Commercial Area yang saat ini dalam tahap pembangunan.

Dapatkan informasi New Cluster The Valley dengan mengunjungi Open House Show Unit di Marketing Point CitraGarden City Malang, Informasi lebih lanjut Hub. Marketing Point CitraGarden City Malang di 0341 750088

Sumber : Jawapos Radar Malang

SUTIAJI JANJI LANJUTKAN PROYEK ”WARISAN” YANG MANGKRAK

Dua dari Tiga Megaproyek di Malang Timur, ke Depan Area Ini Akan Semakin Tertata dan Prospektif

Ada beberapa megaproyek yang tidak bisa dituntaskan dua Wali Kota Malang ( Peni Suparto dan Moch. Anton) yang menjadi perhatian serius Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji. (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji, yang akan dilantik pada September 2018 menggantikan Moch. Anton. Sutiaji berkomitmen untuk menuntaskan tiga megaproyek tersebut, yaitu Jembatan Kedungkandang, Pasar Induk Gadang dan Pasar Blimbing.
Komitmen tersebut disampaikan Sutaji usai rapat paripurna Istimewa di gedung DPRD Kota Malang kemaren (30/7). “Prinsipnya akan lanjutkan (pembangunan proyek-proyek lama yang mangkrak, Red).” ujar Sutiaji, kemaren.
Seperti diberitakan, proyek pembangunan Jembatan Kedungkandang penyelenggaraannya secara multi years (tahun jamak). Pembebasan lahannya dilakukan sejak tahun 2012, sedangkan pembangunannya dimulai tahun 2013. Namun proyek yang dikerjakan oleh Kontraktor itu tidak tuntas.
Lantas, kapan Sutiaji menuntaskannya? Apakah masuk dalam program 100 hari pertama kepemimpinannya sebagai Wali Kota Malang? Sutiaji menjawab diplomatis. “ Kalau memungkinkan (digarap pada 100 hari pertama), tentu kami akan lakukan,”
Sebelum memastikan Proyek Jembatan Kedungkandang dilanjutkan, Sutiaji berencana memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) terkait yaitu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang. “ Diperlukannya koordinasi untuk menginterventarisasi bobot masalahnya. Kalau kecil (hambatannya) ya disegerakan,” katanya.
Sutiaji nekat melanjutkan proyek “warisan” pendahulunya demi kepentingan masyarakat. Menurut Sutiaji pembangunan proyek mangkrak tersebut bermanfaat bagi masyarakat. “Secara aturan kan, harus melanjutkan apa yang sudah di rencanakan pemerintah sebelumnya,” ungkap Sutiaji
Dua dari tiga megaproyek tersebut ada di Malang Timur, yaitu Jembatan Kedungkandang dan Pasar Induk Gadang. Tentu keduanya menjadi titik penting bagi pengembangan wilayah, selain area ini juga akan menjadi semakin berkembang dengan adanya akses tol Surabaya-Malang. Segera berinvestasi di area yang paling potensial ini, hanya di CitraGarden City Malang.

sumber : JawaPos Radar Malang

CitraGarden City Malang Raih “The Eco Friendly Housing Development in Malang”

CitraGarden City Malang berhasil meraih penghargaan“The Eco Friendly Housing Development in Malang” dalam ajang tahunan yang diinisiasi Majalah Properti Indonesia. Perhelatan ini sendiri merupakan yang keenam kalinya, sekaligus menjadi pembuktian seluruh pengembang properti di Indonesia maupun personal dengan memenangkan berbagai kategori dalam Property Indonesia Award 2018 yang baru-baru ini digelar di Ballroom Sheraton Grand Jakarta – Gandaria City Hotel pada 3 Juli 2018.

Penghargaan ini, sekaligus menjadi pembuktian bahwa, pengembangan proyek Ciputra Group dibawah lini bisnisnya melalui PT Ciputra Residence ini menjadi pengembangan yang eco friendly. Dengan mengusung program EcoCulture yang dikembangkan sejak tahun 2011, pengembangan proyek CitraGarden City Malang dilandasi dengan pengembangan yang berasaskan wawasan lingkungan, mulai dari struktur, bangunan, material hingga pengelolaan lingkungannya.

Dengan mengusung wawasan lingkungan yang berkesinambungan ini, CitraGarden City Malang menjadi dedikasi Ciputra Group bagi warga Malang dan sekitarnya. Sebagaimana tercermin dalam semangatnya Ciputra “Membangun Kota, Membangun Kehidupan” tidak hanya membangun sebuah peradaban baru, tetapi menata kehidupa baru dalam sebuah lingkungan yang penuh kedamaian, kenyamanan, asri dan berwawasan lingkungan.

Penghargaan yang disematkan kepada CitraGarden City Malang merupakan bonus yang diberikan oleh masyarakat melalui dalam ajang PIA Awards 2018 atas kerja keras dan semangat serta komitmen Ciputra Group dalam mempersembahkan produk-produk yang berkualitas kepada masyarakat Indonesia.

Dalam ajang ini, tidak hanya CitraGarden City Malang yang berhasil meraih penghargaan dalam ajang ini, Cipura Group melalui enam proyek lainnya berhasil membawa pulang penghargaan dalam beberapa kategori, diantaranya untuk kategori Brokerage, Century 21 Indonesia berhasil meraih penghargaan “The Highly Commended Firm”. Sementara untuk kategori Housing berhasil merebut 3 penghargaan sekaligus, diantaranya selain proyek CitraGarden City Malang “The Eco Friendly Housing Development in Malang” ada Citra FineHomes – Jakarta “The Recomended Smart Home in Jakarta dan CitraGrand Galesong City – Gowa (Distrik Lavanya) “The Prospective Housing In Makasar.

Sedangkan untuk kategori Township, Ciputra Group berhasil meraih tiga penghargaan, diantaranya proyek CitraGarden City – Jakarta berhasil meraih penghargaan “The Established Township Development in Jakarta”, Citra Living – Jakarta “The Prospective Condominium Development in Jakarta dan CitraPlaza Nagoya – Batam “The Recomended Condominium Develpment in Batam.

Ciputra Group Raih Tujuh Penghargaan Properti Indonesia Award 2018

Ajang penghargaan tahunan yang diinisiasi Majalah Properti Indonesia sudah masuk tahun keenam. Perhelatan ini sekaligus menjadi pembuktian seluruh pengembang properti di Indonesia maupun personal dengan memenangkan berbagai kategori dalam Property Indonesia Award 2018 yang baru-baru ini digelar di Ballroom Sheraton Grand Jakarta – Gandaria City Hotel pada 3 Juli 2018.

Ciputra Group setiap tahunnya berhasil meraih penghargaan dalam ajang bergengsi ini. Tercatat, memenangi 7 penghargaan dari kategori, Brokerage, Housing dan township. Untuk kategori Brokerage, Century 21 Indonesia berhasil meraih penghargaan “The Highly Commended Firm”. sementara untuk kategori Housing berhasil merebut 3 penghargaan sekaligus, diantaranya proyek CitraGarden City Malang “The Eco Friendly Housing Development in Malang”, Citra FineHomes – Jakarta “The Recomended Smart Home in Jakarta dan CitraGrand Galesong City – Gowa (Distrik Lavanya) “The Prospective Housing In Makasar. Sedangkan untuk kategori Township, Ciputra Group berhasil meraih tiga penghargaan, diantaranya proyek CitraGarden City – Jakarta berhasil meraih penghargaan “The Established Township Development in Jakarta”, Citra Living – Jakarta “The Prospective Condominium Development in Jakarta dan CitraPlaza Nagoya – Batam “The Recomended Condominium Develpment in Batam.

Sebagaimana diketahui, Properti Indonesia Award sejatinya bukanlah sebuah kompetisi, melainkan lebih kepada penghargaan yang dipersembahkan atas dedikasi dan kontribusi kepada para insan properti tanah air dan industri terkait yang secara nyata dan positif telah menunjukkan prestasi dan dedikasinya dalam melahirkan produk-produk berkualitas.

PIA 2018 juga ditujukan sebagai forum sosialisasi dan interaksi bagi para industriawan properti dan industri terkait, pejabat pemerintah, serta para pelaku industri terkemuka lainnya dan merupakan salah satu upaya eksposur perusahaan dan brand awareness bagi para calon customer potensial.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Majalah Properti Indonesia Said Mustafa dalam sambutannya mengatakan Properti Indonesia Award didedikasikan untuk mengapresiasi kepada mereka yang memiliki pemikiran kreatif dan inovatif serta langkah dan kebijakan yang cermat dalam pengelolaan industri, meski di tengah situasi ekonomi yang belum kondusif. Dengan demikian, industri strategis ini dapat terus bergulir, berkembang dengan linkage-nya yang sedemikian kuat terhadap lebih dari 174 sub-sektor industry pendukung lainnya.

“Kepada mereka yang memiliki keunggulan dalam berprestasi, menciptakan karya-karya excellent di bidangnya, dan berhasil mendapatkan apresiasi dari masyarakat, Properti Indonesia Award 2018 ini kami persembahkan,” jelas Said Mustafa.

DIBUKA FUNGSIONAL, 3.362 KENDARAAN MELINTAS DI TOL PANDAAN-MALANG

DIBUKA FUNGSIONAL, 3.362 KENDARAAN MELINTAS DI TOL PANDAAN-MALANG

Ruas Tol Pandaan – Malang dibuka darurat fungsional untuk mengatasi kemacetan arus mudik dan arus balik Lebaran 2018. Sampai sejauh ini, ribuan kendaraan sudah melintas di atas ruas jalan itu.
Ruas tol itu dibuka darurat fungsional sejak H-8 atau Jumat (8/6/218) untuk arus mudik. Rencananya, ruas tol itu akan ditutup kembali pada H+8 setelah arus balik selesai.
Tidak semua ruas Tol Pandaan – Malang difungsikan untuk arus Lebaran. Ruas tol yang difungsikan hanya di seksi I dan seksi III. Yakni mulai dari exit Pandaan hingga ke Girder Lemah Bang, Sukorejo, Kabupaten Pasuruan sepanjang 5 kilometer.
Sedang seksi III mulai dari pintu masuk Sumber Wuni, Kecamatan Lawang hingga ke pintu keluar Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang sepanjang 12 kilometer.
Sejak dibuka, 3.362 kendaraan sudah melintas di ruas tol tersebut. Pada hari pertama, jumlah kendaraan yang melintas sebanyak 553 kendaraan, pada hari kedua sebanyak 1.750 kendaraan dan pada hari ini, Minggu (10/6/218) sampai pukul 13.00 WIB sudah ada 1.059 kendaraan yang melintas.
“Dibuka darurat fungsional untuk membantu memecah kemacetan,” kata Koordinator petugas pos pintu keluar Karanglo, A Toharudin.
Ruas tol itu beroperasi sejak pukul 7.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tol itu sengaja ditutup pada malam hari karena minimnya penerangan dan rambu lalu lintas.
“Buka jam tujuh pagi, tutup jam lima sore. Belum ada penerangan. Rambu – rambu kurang. Jadi belum sepenuhnya lah. Masalah keamanan juga jadi pertimbangannya kalau malam,” katanya.
Selain itu, tol itu berfungsi hanya untuk kendaraan dengan ketinggian maksimum 2,1 meter karena masih dalam tahap pengerjaan.
Meidianto, salah satu pengendara asal Pasuruan mengaku marasa terbantu dengan dibukanya tol itu secara fungsional. Perjalanan yang biasanya ia tempuh selama 30 menit dari Lawang ke Karanglo karena kemacetan, dengan adanya tol itu hanya ditempuh selama tujuh menit. “Enak cepat. Cuma banyak jalan yang belum rata jadi kalau kecepatan penuh masih agak turun gini,” katanya.

Nah kebayangkan jika nantinya Tol itu (Surabaya-Pandaan-Malang) akan tersambung dan benar-benar diresmikan? Di situlah letak keunggulan dari CitraGarden City Malang.

CitraGarden City Malang yang berlokasi sangat Strategis tidak jauh dari exit Tol Malang-Surabaya (+ 4 km) dan berada di kawasan Malang Timur yg menjadi area pengembangan Infrastruktur oleh Pemerintah, serta berada di Salah satu Titik Tertinggi di Malang, sehingga memiliki Keunggulan View dan Kualitas Udara yang segar dan lebih baik

Saat ini CitraGarden City Malang menawarkan promo DP KPR 5% dan Bunga KPR 3.88%. Segera kunjungi Open House Show Unit CitraGarden City Malang di Marketing Point CGC Malang. Tunggu apalagi, jangan sampai kehabisan Unit di CitraGarden City Malang. Marketing Point CGC Malang berada di Jln CitraGarden City Boulevard Telp 0341-7500888 atau kamu bisa menghubungi agent kepercayaan anda
(Sumber : https://regional.kompas.com)

JELAJAH TOL MALANG-PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 5

Tol dari Karanglo, Singosari, hingga Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, beroperasi meski apa adanya. Ada banyak yang perlu diperhatikan bagi pengendara yang hendak melintasi jalan tol ini. Apa saja itu?

Salah satunya yang perlu diperhatikan ketika melintasi jalan tol ini adalah bahan bakar minyak (BBM)-nya. Lantaran, karena sifat tol ini masih fungsional, maka belum ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berdiri di sepanjang tol yang panjangnya 8–12,5 meter tersebut.

Sebenarnya, Pertamina menyiapkan kios di sejumlah tol fungsional. Totalnya ada sekitar 25 kios di Jawa Timur. Hanya, khusus di Malang, kios tersebut tidak ada. ”Kalau di Malang, kami siapkan motor yang mobile untuk mengantar BBM kemasan dan eceran,” kata Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Ibnu Chouldum awal pekan lalu.

Sepeda motor yang membawa bensin ini nantinya akan mengantar bahan bakar jika terjadi kemacetan. Sebab, jangkauannya sangat terbatas, diharapkan pengguna jalan tol Karanglo–Sumber Wuni sudah menyiapkan BBM ketika hendak melintas di jalan tol ini.

Diberitakan sebelumnya, pada momen mudik Lebaran ini, tol Malang–Pandaan (Mapan) akan beroperasi separo. Yakni, dari Pandaan menuju Malang. Sementara ini exit tol terakhirnya di simpang tiga Karanglo. Sementara pengendara dari Malang menuju Pandaan belum bisa melintasi tol Mapan.

Dari Pandaan, tol beroperasi hingga daerah Sukorejo (Kabupaten Pasuruan). Setelah itu, pengendara melintasi jalan biasanya, lalu masuk tol lagi di daerah Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Setelah masuk tol, baru keluar lagi di pertigaan Karanglo. Panjang tol Sumber Wuni–Karanglo sekitar 8–12,5 kilometer.

Sedangkan untuk di jalan dari Sumber Wuni ke utara, yakni ke daerah Pasuruan masih belum difungsikan. Selain ada jembatan yang belum terhubung, ada tebing yang belum terbongkar. Tebing ini tingginya sekitar 20 meter. Tebing itu berada di dekat pabrik Pocari Sweat dan Molindo di Sumber Waras, Lawang.

Sementara itu, untuk jalan tol Karanglo-Sumber Wuni, rencananya hari ini (8/6) semua pengerjaan di daerah tersebut sudah tuntas. Dengan demikian, sebenarnya mulai hari ini sudah bisa digunakan. ”Kami memang akan siapkan H-7 Lebaran, tapi untuk beroperasinya masih menunggu dari Polda Jatim,” kata Dirut PT Jasa Marga Pandaan–Malang Agus Purnomo.

Dia menambahkan, pihaknya perlu menunggu Polda Jatim karena sifatnya tol ini adalah fungsional. Maka, harus ada personel, di antaranya dari polisi yang mengatur di pintu masuk dan keluar. ”Meski Jumat (hari ini, Red) sudah siap, tapi kami tidak bisa tiba-tiba membuka sendiri, harus ada koordinasi dengan polisi dan dishub,” pungkasnya.

http://www.radarmalang.id/

JELAJAH TOL MALANG-PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 4

Tol Malang–Pandaan benar-benar menjadi kebanggaan warga Malang Raya. Tol tersebut adalah tol pertama yang ada di daerah ini. Bahkan, meski belum dibuka secara resmi, suasana di tol ini cukup ramai orang yang hilir mudik. Lalu, berapa tarifnya jika sudah resmi beroperasi?

Senja begitu indah terlihat di tol Malang–Pandaan. Saat tim jelajah Jawa Pos Radar Malang melintasi jalan tol Minggu lalu (3/6), ada beberapa pesepeda pancal yang melintas perlahan. Mereka terlihat begitu menikmati pemandangan matahari yang hendak terbenam.

Selain sejumlah pesepeda pancal, memang sudah banyak warga yang hilir mudik di tol yang akan beroperasi saat momen Lebaran ini. Hanya, mayoritas masih warga sekitar daerah tersebut yang melintas.

Saat wartawan koran ini berada di tol yang sudah jadi, ada seorang petugas keamanan yang terlihat mengawasi. ”Iya, setiap saat memang harus diawasi, biasanya ada balapan liar,” kata Lutfianto, salah seorang petugas keamanan.

Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu memang ada sejumlah anak muda yang hendak menggeber sepedanya. Untungnya, sebelum balapan liar digelar, sudah ada satpam yang menghentikan.

”Sangat berbahaya, apalagi masih banyak kendaraan proyek yang besar-besar melintas,” imbuhnya.

Sementara itu, memang ada sejumlah peringatan tentang larangan balap liar di area proyek tol Malang–Pandaan. ”Sayangi nyawa Anda demi keluarga di rumah,” tulis pengumuman tersebut.

Diberitakan sebelumnya, pada momen mudik Lebaran ini, tol Mapan akan beroperasi separo. Yakni, dari Pandaan menuju Malang. Sementara ini exit tol terakhirnya di simpang tiga Karanglo. Sementara pengendara dari Malang menuju Pandaan belum bisa melintasi tol Mapan.

Dari Pandaan, tol beroperasi hingga daerah Sukorejo (Kabupaten Pasuruan). Setelah itu, pengendara melintasi jalan biasanya, lalu masuk tol lagi di daerah Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Setelah masuk tol, baru keluar lagi di pertigaan Karanglo. Panjang tol Sumber Wuni–Karanglo sekitar 8–12,5 kilometer.

Sedangkan untuk di jalan dari Sumber Wuni ke utara, yakni ke daerah Pasuruan masih belum difungsikan. Selain ada jembatan yang belum terhubung, ada tebing yang belum terbongkar. Tebing ini tingginya sekitar 20 meter. Tebing itu berada di dekat pabrik Pocari Sweat dan Molindo di Sumber Waras, Lawang.

Saat wartawan koran ini melintas, ada sekitar lima alat berat yang mengeruk tebing tersebut. Pembongkaran tebing ini terbilang cukup lama.

”Saya kerja di sini sudah enam bulan, sebelumnya sudah ada pengerjaan. Mungkin sudah sepuluh bulan tebing ini dibongkar,” kata Ahmadi, salah seorang pekerja.

Karena saat ini pengurukan tinggal 13 meter lagi, dia memperkirakan 3–5 bulan lagi pengerjaan tebing tersebut akan tuntas. ”Jadi, jika ditotal lebih setahun pengurukan untuk tebing ini saja,” pungkasnya.

Sementara itu, jika nanti tol Malang–Pandaan resmi beroperasi, maka nantinya akan dikenakan tarif. Untuk diketahui, tol dari Karanglo, Singosari–Sumber Wuni, Lawang yang beroperasi saat Lebaran adalah tol sementara dan digratiskan.

Lalu, jika sudah resmi beroperasi, berapa tarifnya? Dirut PT Jasa Marga Pandaan–Malang Agus Purnomo menjelaskan perkiraannya. Sesuai tarif tol pada umumnya, yakni Rp 800–Rp 900 dalam satu kilometer.

”Kalau dari Sawojajar ke Pandaan, panjangnya 38,5 kilometer,” katanya.

Dengan demikian, tarif perkiraan jika beroperasi Rp 34 ribu. Ini untuk kendaraan golongan 1 atau kendaraan pribadi. ”Untuk kendaraan besar seperti golongan dua dan tiga, lebih mahal tapi pastinya tidak tahu karena ada rumusnya,” pungkasnya.

http://www.radarmalang.id/

JELAJAH TOL MALANG-PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 3

PT Jasa Marga berjanji bakal mempercepat pengoperasionalan tol Malang–Pandaan (Mapan), yakni dari H-3 menjadi H-7 Lebaran. Selain itu, jalur sepanjang 12,5 kilometer itu sementara ini digratiskan bagi pengendara yang melintasinya.

Azan Magrib berkumandang ketika tim jelajah tol Malang–Pandaan (Mapan) tiba di exit tol Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu lalu (3/6). Titik ini sekaligus menandai berakhirnya jelajah jalur sepanjang 12,5 kilometer, dari Sumber Wuni (Kecamatan Lawang) menuju Karanglo (Kecamatan Singosari).

Tim jelajah dari Jawa Pos Radar Malang tidak meneruskan perjalanan karena exit Karanglo adalah titik terakhir. Sebenarnya, jalur tol Mapan tembus hingga Cemorokandang, Kedungkandang, Kota Malang. Tapi, akses dari Karanglo menuju exit tol di Cemorokandang belum terbuka. Masih berupa ilalang dan kebun. Masih ada 50 bidang tanah di Kelurahan Madyopuro yang belum dibebaskan.

Bagi pengendara yang akan melintasinya, dari arah Pandaan bisa masuk lewat pintu tol sementara di Sumber Wuni, kemudian melaju bebas tanpa hambatan ke arah selatan. Sesampainya di kilometer 30, pengendara akan diarahkan belok kanan menuju simpang tiga Karanglo. Di kawasan tersebut juga terdapat rambu penunjuk arah belok kiri menuju exit tol Cemorokandang. Namun, sementara ini belum bisa dilintasi karena aksesnya belum tersedia.

Setibanya tim jelajah di Karanglo, sejumlah pekerja tampak bergegas pulang. Mereka mengendarai mobil pikap secara beramai-ramai meninggalkan lokasi proyek. Barangkali, hari itu adalah hari yang panjang bagi mereka (para pekerja). Sebab, selain bekerja di bulan Ramadan, ketika itu juga hari Minggu.

Para pekerja itu lembur karena PT Jasa Marga Pandaan–Malang ingin menuntaskan pembangunan tol Mapan secepatnya. Setidaknya, jalur dari Sumber Wuni menuju Karanglo bisa dilintasi sejak H-3 jelang Lebaran. Itu karena sebelumnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menteri PUPR) RI Basuki Hadimuljono berjanji akan mengoperasionalkan tol Mapan pada H-3 Lebaran.

Dengan beroperasinya tol Mapan dari Sumber Wuni hingga Karanglo, diharapkan bisa mengurai kemacetan di jalan Lawang–Singosari. Seperti diketahui, jalan Lawang–Singosari menjadi langganan macet. Jangankan musim mudik Lebaran, pada hari biasanya saja jalan nasional itu kerap macet.

Tapi, dengan beroperasinya tol tersebut, pengendara dari Pandaan (Kabupaten Pasuruan) tidak perlu melintasi jalan raya Singosari. Tapi, dari jalan raya Lawang, pengendara belok kiri menuju jalan Sumber Wuni, lalu masuk exit tol Mapan. Setelah itu keluar di simpang tiga Karanglo. Dengan demikian, kemacetan di depan Pasar Singosari bisa terurai.

”Semoga saja bisa segera beroperasi karena Singosari dan Lawang memang langganan macet,” ujar Mahdi El Khered, salah seorang warga yang terbiasa pulang pergi Malang–Sukorejo, Pasuruan, itu.

Informasi yang digali tim jelajah dari para pekerja, untuk sementara melintasi tol Mapan akan digratiskan. Dengan demikian, pengendara yang melintasi tol tidak perlu mengeluarkan biaya. Kebijakan menggratiskan tarif tol Mapan untuk sementara ini tentu menguntungkan pengendara. Sebab, jika ditarif, pengendara bisa merogoh kocek puluhan ribu rupiah. Tol Surabaya–Mojokero saja, pengendara melintasi jarak sekitar 15 kilometer dari Surabaya–Krian dikenakan biaya Rp 19.000. Demikian juga Pandaan–Japanan sepanjang 15 kilometer, pengendara dikenakan tarif Rp 13.000–Rp 38.000, bergantung jenis kendaraannya.

Terpisah, Dirut PT Jasa Marga Pandaan–Malang Agus Purnomo membenarkan bahwa sementara ini pihaknya akan menggratiskan pengendara yang melintasi tol Mapan. ”Iyalah gratis, karena ini jalan darurat saja agar bisa memecah kemacetan saat Lebaran,” imbuhnya.

Dengan demikian, nantinya tidak ada loket sebagaimana exit tol pada umumnya. Apalagi, dari pantauan koran ini memang tidak ada loket yang sudah terbangun. ”Nanti yang akan mengatur di pintu masuk dan keluar adalah polisi dan dishub,” pungkasnya.

Selain itu, Agus juga akan mempercepat pengoperasionalannya. Bahkan, lebih cepat dari deadline yang ditetapkan Kemen PUPR. Jika sebelumnya Menteri Basuki menargetkan tol Mapan dibuka H-3 jelang Lebaran, Agus ingin membuka sejak H-7 jelang Lebaran.
Sementara itu, Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menambahkan, nantinya akan ada personel yang berjaga di pintu masuk dan keluar jalan tol. ”Nanti akan ada sekitar 5–10 personel,” kata Ujung.

Menurut dia, pengaturan oleh personel kepolisian ini penting karena tol belum ada loket dan belum berbayar. ”Apalagi di Karanglo yang pintu keluar tol belum ada traffic light-nya, jadi harus diatur dari pintu keluar menuju jalan raya,” imbuhnya.
Dia berharap, kemacetan di Malang Raya bisa diminimalisasi dengan beroperasinya tol Mapan. Khusus di Kabupaten Malang, selama ini ada dua titik kemacetan. ”Yakni, di Singosari ke Lawang dan sekarang sudah diminimalisasi tol, sedangkan yang kedua di pusat Kota Kepanjen,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, jelang Lebaran ini, tol Mapan akan beroperasi separo. Yakni, dari Pandaan menuju Malang. Sementara ini exit tol terakhirnya di simpang tiga Karanglo. Sementara pengendara dari Malang menuju Pandaan belum bisa melintasi tol Mapan.
Dari Pandaan, tol beroperasi hingga daerah Sukorejo (Kabupaten Pasuruan). Setelah itu, pengendara melintasi jalan biasanya, lalu masuk tol lagi di daerah Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Setelah masuk tol, baru keluar lagi di pertigaan Karanglo. Panjang tol Sumber Wuni–Karanglo sekitar 8–12,5 kilometer.

http://www.radarmalang.id/

JELAJAH TOL MALANG-PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 2

ARAH jarum jam menunjukkan pukul 16.00, Minggu lalu (3/6) tim jelajah dari Jawa Pos Radar Malang tiba di Jalan Sumber Wuni, Kecamatan Lawang. Begitu memasuki ruas jalan tol Malang-Pandaan (Mapan), mobil melintas tanpa hambatan. Dengan kecepatan sedang, mobil mampu berjalan konstan dari Sumber Wuni hingga Dengkol, Kecamatan Singosari. Ruas jalan yang sudah dicor itu terasa mulus dilintasi.

Mobil yang dikendarai tim baru merasakan kendala ketika memasuki kawasan dengkol. Di daerah ini terdapat jalan kampung yang membelah ruas tol. Sehingga, jalanan harus tersendat karena menunggu antrian lalu lalang kendaraan di jalan kampung tersebut.

Selain itu, di sekitar tempat ini juga terdapat beberapa titik galian. Sehingga mengurangi laju mobil tim jelajah. Agar ruas jalan tol dari Sumber Wuni hingga Karanglo bisa dilintasi sejak H-3 jelang lebaran, tanah bekas urugan itu harus dibersihkan. Pembersihannya pun harus dirampungkan sebelum tol beroperasi.

Setelah sedikit halangan itu, jalan kembali mulus. Saat itu, ketika tim jelajah melintas, matahari sudah mulai tenggelam. Sehingga ada panorama eksotis disepanjang jalur tol tersebut.

Tidak jauh dari dengkol, tim jelajah mendapati jembatan yang sudah bisa dilintasi. Di bawah jembatan itu terlihat sejumlah pekerja yang sedang menata bebatuan menjadi plengsengan. ”Paling lambat 6 Juni (besok) pekerjaan harus tuntas. Karena kabarnya tanggal 7 Juni mendatang sudah dibuka. Makanya ini dikebut terus,” kata Herry Sukoco, mandor proyek pembangunan plengsengan di ruas jalur tol tersebut.

Sukoco menegaskan, jembatan itu sudah tuntas sekitar sebulan lalu. Sehingga sudah bisa digunakan untuk mudik lebaran kali ini. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tol Malang-Pandaan (Mapan) sudah bisa dilintasi separo. Disebut separo karena yang di arena Malang hanya bisa dilintasi sejak kilometer 22 di Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, hingga kilometer 30 di Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dengan demikian, ada sekitar delapan kilometer jalan tol yang berfungsi.

Kendati demikian, jalan tol ini diyakini efektif memecah kemacetan di Jalur Lawang-Singosari. Setiap musim libur lebaran, terjadi kemacetan parah di sepanjang Jalur Lawang-Singosari. Bahkan setiap weekend, juga sering terjadi kemacetan di kawasan tersebut.

Meski jalan tol ini siap dilintasi sebelum lebaran, pantauan koran ini menemukan beberapa kekurangan. Diantaranya adalah tidak adanya pembatas jalan. Selama melintasi jalur sepanjang 8 kilometer ini, pembatas di sisi kiri dan kanan memang dibuat dari kayu yang bercat biru dan putih.

Pembatas sederhana ini dijejer sekitar lima meter. Tujuannya untuk penanda kalau benda tersebut adalah pembatas jalan. ”Iya memang baru adanya seperti itu. Tapi sudah bisa digunakan,” kata Lutfianto, salah seorang petugas keamanan yang melintas di tempat tersebut.

Tidak hanya itu, untuk marka jalan juga belum ada. Sehingga, jalan tol ini masih berupa beton berwarna kecoklatan. Meski berupa beton, tapi konturnya sudah merata. Sehingga tidak bergoyang ketika dilintasi kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Selain itu, penerangan juga belum ada. Agar tidak membahayakan pengguna jalan, sementara ini pengoperasionalannya dilakukan pada pagi hingga sore hari. ”Informasinya dari pagi hingga tutup pukul 17.00,” imbuhnya.

Pernyataan Lutfianto tersebut dibenarkan oleh Agus Purnomo, Dirut PT Jasa Marga Pandaan-Malang. Saat dikonfirmasi, Agus membenarkan bahwa jalur tol dari Sumber Wuni menuju Karanglo akan beroperasi sejak pukul 07.00 hingga 17.00. ”Jelas, kalau malam tidak akan beroperasi,” kata dia melalui sambungan telepon.

Dia menegaskan, kalau jalan ini bahasa formalnya bukan jalan tol yang beroperasi. Tapi, jalan proyek yang digunakan dalam rangka lebaran. ”Makanya nanti penggunaannya kita akan berkoordinasi dengan Dishub (dinas perhubungan) dan kepolisian,” imbuhnya.
Disinggung mengenai beberapa perlengkapan yang kurang, Agus mengakui bahwa persiapannya tergolong minimalis. ”Ya namanya saja jalan proyek, seperti pembatas jalan memang ada, makanya kecepatan pengendara dibatasi,” imbuhnya.

Pembatasannya menurut dia adalah 60 kilometer per jam. Dengan demikian, jika ada pengendara yang ugal-ugalan di jalan tol ini akan ditindak oleh petugas jaga. ”Untuk marka jalan memang belum ada, makanya kecepatan kita batasi,” imbuhnya.

Sedangkan untuk jalan tol yang dibelah oleh jalan desa di Dengkol, menurut Agus nantinya akan ada supeltas yang menjaga. ”Tidak ada lampu merah, karena kalau orang yang menjaga nanti bisa lebih fleksibel,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jalan Tol Mapan tidak bisa seratus beroperasi karena ada berbagai kendala. Diantaranya, jembatan belum terpasang di Lawang. Ada juga tebing yang belum dikepras. Pengamatan wartawan koran ini, pengerukannya kurang sekitar 13 meter lagi. Sehingga, dibutuhkan waktu hingga 3-5 bulan lagi.

Sumber : http://www.radarmalang.id/

JELAJAH JALUR TOL MALANG–PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 1

Jelang beroperasinya tol Malang–Pandaan (Mapan), Jawa Pos Radar Malang melakukan penelusuran jalur. Tujuannya untuk mengetahui apakah janji Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) mengoperasikan tol H-3 jelang Lebaran bisa terwujud atau tidak. Apa saja temuan tim setelah menelusuri rute sekitar 12 kilometer itu?

Tidak ada cerita liburan pada hari Minggu bagi pekerja proyek tol Malang–Pandaan (Mapan). Meski Minggu, kemarin (3/6) ratusan pekerja sibuk menggarap proyek mercusuar pemerintah pusat itu. Tim Jawa Pos Radar Malang yang melakukan jelajah mengambil titik dari Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Di kilometer 17 inilah terkuak salah satu masalah terbesar yang bisa mengancam pengoperasionalan tol Mapan seratus persen itu. Di tempat ini, membentang sungai Sumberporong yang lebarnya sekitar sepuluh meter.

Sungai inilah yang bakal pemudik lintasi di jalur tol Mapan secara keseluruhan. Lantaran, belum ada jembatan yang terpasang di sungai ini. Yang ada hanya abutment atau penyangga jembatan di sebelah selatan. Ada dua abutment berukuran jumbo yang terpasang.

Sedangkan di sisi utara, belum ada tanda-tanda pengerjaan jembatan. Yang ada hanya rerumputan dan ilalang. Abutment juga belum ada di sisi utara.

”Ya, jelas tidak bisa digunakan kalau tol yang di titik ini (Sumberporong). Kami memasang abutment ini saja butuh waktu tiga bulan,” kata Andro Febrianto, pekerja konstruksi, saat ditemui di lokasi kemarin.

Dengan demikian, pemasangan abutment di sisi utara juga memerlukan waktu tiga bulan. Sedangkan Lebaran tinggal menghitung hari. Artinya, pengoperasionalan seratus persen dipastikan setelah Lebaran.

Pemasangan abutment ini memang lama karena ukurannya jumbo. Lebarnya sekitar 40 meter dan tingginya 15 meter. Abutment ini untuk menyangga jembatan yang panjangnya 60 meter. Tidak jauh dari tempat itu, ada juga jembatan kecil yang belum terpasang.

Setelah memantau dua jembatan ini, tim jelajah menuju ke arah selatan. Di kilometer 18, tim jelajah menemukan jalan yang masih lean concrete (LC) atau beton dasar. Beton dasar ini sangatlah tipis, sekitar 10 sentimeter. Jadi, itu dinilai belum layak jika digunakan untuk jalan tol. Masih butuh pembetonan yang lebih tebal lagi.

Karena itu, di kilometer 18, tepatnya di Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, kemarin mulai dikebut pengerjaan power paver atau pengecoran beton.

Tebal beton ini sudah mencapai 40 sentimeter sehingga sudah layak digunakan untuk jalan tol. Kira-kira bentuk pengecoran beton ini sama dengan jenis jalan tol Pandaan–Sidoarjo yang sudah beroperasi lebih awal.

Hanya, pengerjaan beton tersebut hanya separo karena alatnya mampu mengerjakan empat meter saja. Dengan demikian, hanya separo beton tebal yang layak untuk jalan tol. Sedangkan yang lain masih beton dasar dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter.

”Di titik ini memang baru dibeton empat minggu lalu sehingga sedikit yang selesai,” kata Fatoni, pekerja dari PP Presisi.

Untuk diketahui, PP Presisi merupakan anak perusahaan dari PT Pembangunan Perumahan (PP). Sedangkan PP adalah perusahaan pelat merah yang mengerjakan proyek tol Malang–Pandaan.

Sementara itu, Supervisor PT PP Wahyu Ferianto saat ditemui dalam pemantauan pengerjaan proyek kemarin menjelaskan secara gamblang rencana pengoperasian tol Malang–Pandaan. Khusus di Malang, yang beroperasi baru seksi 2B.

”Sedangkan saya adalah supervisor 2A yang saat ini sedang dikerjakan dan belum selesai untuk Lebaran ini,” kata Wahyu.

Seksi yang sudah siap dilintasi adalah kilometer 22. Tepatnya di Sumberwuni, Kecamatan Lawang. Setelah masuk pintu tol, pengendara dari Pandaan bisa ke selatan hingga ke Karanglo (Kecamatan Singosari). Exit tol ini berada di pertigaan Bentoel.

”Exit tol ini adalah di kilometer 30. Jadi, sekitar delapan kilo jalan tol yang bisa digunakan,” katanya.

Teknisnya, jika pengendara dari Surabaya, mereka bisa menggunakan jalan tol dari Pandaan hingga pintu keluar Lembahbang, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Dari Sukorejo, pengendara melintasi jalan provinsi non tol (jalan biasanya). Setelah itu masuk lagi di pintu tol Sumberwuni, Kecamatan Lawang. Dari Sumberwuni, pengguna jalan tol bisa melaju sepanjang delapan kilometer hingga pintu keluar di Karanglo.

Selanjutnya, setelah dari kilometer 18, tim jelajah menuju arah selatan. Sekitar dua kilometer tim jelajah menemukan tebing dengan ketinggian sekitar 20 meter. Meski sudah dikeruk, terlihat kalau tebing ini belum selesai pengeprasannya.

Di tebing ini terdapat empat ekskavator dan sejumlah truk yang hilir mudik mengangkut bebatuan hasil dari pengerukan. Melihat tebing yang masih separo pembongkaran itu sangatlah mustahil jalan ini dilintasi saat Lebaran. Mobil tim jelajah yang melintas di tempat ini saja harus bergantian dengan truk yang hilir mudik. Jalannya juga masih bebatuan.

sumber : http://www.radarmalang.id