JELAJAH JALUR TOL MALANG–PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 1 - CitraGarden City Malang

JELAJAH JALUR TOL MALANG–PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 1

Jelang beroperasinya tol Malang–Pandaan (Mapan), Jawa Pos Radar Malang melakukan penelusuran jalur. Tujuannya untuk mengetahui apakah janji Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) mengoperasikan tol H-3 jelang Lebaran bisa terwujud atau tidak. Apa saja temuan tim setelah menelusuri rute sekitar 12 kilometer itu?

Tidak ada cerita liburan pada hari Minggu bagi pekerja proyek tol Malang–Pandaan (Mapan). Meski Minggu, kemarin (3/6) ratusan pekerja sibuk menggarap proyek mercusuar pemerintah pusat itu. Tim Jawa Pos Radar Malang yang melakukan jelajah mengambil titik dari Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Di kilometer 17 inilah terkuak salah satu masalah terbesar yang bisa mengancam pengoperasionalan tol Mapan seratus persen itu. Di tempat ini, membentang sungai Sumberporong yang lebarnya sekitar sepuluh meter.

Sungai inilah yang bakal pemudik lintasi di jalur tol Mapan secara keseluruhan. Lantaran, belum ada jembatan yang terpasang di sungai ini. Yang ada hanya abutment atau penyangga jembatan di sebelah selatan. Ada dua abutment berukuran jumbo yang terpasang.

Sedangkan di sisi utara, belum ada tanda-tanda pengerjaan jembatan. Yang ada hanya rerumputan dan ilalang. Abutment juga belum ada di sisi utara.

”Ya, jelas tidak bisa digunakan kalau tol yang di titik ini (Sumberporong). Kami memasang abutment ini saja butuh waktu tiga bulan,” kata Andro Febrianto, pekerja konstruksi, saat ditemui di lokasi kemarin.

Dengan demikian, pemasangan abutment di sisi utara juga memerlukan waktu tiga bulan. Sedangkan Lebaran tinggal menghitung hari. Artinya, pengoperasionalan seratus persen dipastikan setelah Lebaran.

Pemasangan abutment ini memang lama karena ukurannya jumbo. Lebarnya sekitar 40 meter dan tingginya 15 meter. Abutment ini untuk menyangga jembatan yang panjangnya 60 meter. Tidak jauh dari tempat itu, ada juga jembatan kecil yang belum terpasang.

Setelah memantau dua jembatan ini, tim jelajah menuju ke arah selatan. Di kilometer 18, tim jelajah menemukan jalan yang masih lean concrete (LC) atau beton dasar. Beton dasar ini sangatlah tipis, sekitar 10 sentimeter. Jadi, itu dinilai belum layak jika digunakan untuk jalan tol. Masih butuh pembetonan yang lebih tebal lagi.

Karena itu, di kilometer 18, tepatnya di Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, kemarin mulai dikebut pengerjaan power paver atau pengecoran beton.

Tebal beton ini sudah mencapai 40 sentimeter sehingga sudah layak digunakan untuk jalan tol. Kira-kira bentuk pengecoran beton ini sama dengan jenis jalan tol Pandaan–Sidoarjo yang sudah beroperasi lebih awal.

Hanya, pengerjaan beton tersebut hanya separo karena alatnya mampu mengerjakan empat meter saja. Dengan demikian, hanya separo beton tebal yang layak untuk jalan tol. Sedangkan yang lain masih beton dasar dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter.

”Di titik ini memang baru dibeton empat minggu lalu sehingga sedikit yang selesai,” kata Fatoni, pekerja dari PP Presisi.

Untuk diketahui, PP Presisi merupakan anak perusahaan dari PT Pembangunan Perumahan (PP). Sedangkan PP adalah perusahaan pelat merah yang mengerjakan proyek tol Malang–Pandaan.

Sementara itu, Supervisor PT PP Wahyu Ferianto saat ditemui dalam pemantauan pengerjaan proyek kemarin menjelaskan secara gamblang rencana pengoperasian tol Malang–Pandaan. Khusus di Malang, yang beroperasi baru seksi 2B.

”Sedangkan saya adalah supervisor 2A yang saat ini sedang dikerjakan dan belum selesai untuk Lebaran ini,” kata Wahyu.

Seksi yang sudah siap dilintasi adalah kilometer 22. Tepatnya di Sumberwuni, Kecamatan Lawang. Setelah masuk pintu tol, pengendara dari Pandaan bisa ke selatan hingga ke Karanglo (Kecamatan Singosari). Exit tol ini berada di pertigaan Bentoel.

”Exit tol ini adalah di kilometer 30. Jadi, sekitar delapan kilo jalan tol yang bisa digunakan,” katanya.

Teknisnya, jika pengendara dari Surabaya, mereka bisa menggunakan jalan tol dari Pandaan hingga pintu keluar Lembahbang, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Dari Sukorejo, pengendara melintasi jalan provinsi non tol (jalan biasanya). Setelah itu masuk lagi di pintu tol Sumberwuni, Kecamatan Lawang. Dari Sumberwuni, pengguna jalan tol bisa melaju sepanjang delapan kilometer hingga pintu keluar di Karanglo.

Selanjutnya, setelah dari kilometer 18, tim jelajah menuju arah selatan. Sekitar dua kilometer tim jelajah menemukan tebing dengan ketinggian sekitar 20 meter. Meski sudah dikeruk, terlihat kalau tebing ini belum selesai pengeprasannya.

Di tebing ini terdapat empat ekskavator dan sejumlah truk yang hilir mudik mengangkut bebatuan hasil dari pengerukan. Melihat tebing yang masih separo pembongkaran itu sangatlah mustahil jalan ini dilintasi saat Lebaran. Mobil tim jelajah yang melintas di tempat ini saja harus bergantian dengan truk yang hilir mudik. Jalannya juga masih bebatuan.

sumber : http://www.radarmalang.id