JELAJAH TOL MALANG-PANDAAN SEBELUM BEROPERASI 2

ARAH jarum jam menunjukkan pukul 16.00, Minggu lalu (3/6) tim jelajah dari Jawa Pos Radar Malang tiba di Jalan Sumber Wuni, Kecamatan Lawang. Begitu memasuki ruas jalan tol Malang-Pandaan (Mapan), mobil melintas tanpa hambatan. Dengan kecepatan sedang, mobil mampu berjalan konstan dari Sumber Wuni hingga Dengkol, Kecamatan Singosari. Ruas jalan yang sudah dicor itu terasa mulus dilintasi.

Mobil yang dikendarai tim baru merasakan kendala ketika memasuki kawasan dengkol. Di daerah ini terdapat jalan kampung yang membelah ruas tol. Sehingga, jalanan harus tersendat karena menunggu antrian lalu lalang kendaraan di jalan kampung tersebut.

Selain itu, di sekitar tempat ini juga terdapat beberapa titik galian. Sehingga mengurangi laju mobil tim jelajah. Agar ruas jalan tol dari Sumber Wuni hingga Karanglo bisa dilintasi sejak H-3 jelang lebaran, tanah bekas urugan itu harus dibersihkan. Pembersihannya pun harus dirampungkan sebelum tol beroperasi.

Setelah sedikit halangan itu, jalan kembali mulus. Saat itu, ketika tim jelajah melintas, matahari sudah mulai tenggelam. Sehingga ada panorama eksotis disepanjang jalur tol tersebut.

Tidak jauh dari dengkol, tim jelajah mendapati jembatan yang sudah bisa dilintasi. Di bawah jembatan itu terlihat sejumlah pekerja yang sedang menata bebatuan menjadi plengsengan. ”Paling lambat 6 Juni (besok) pekerjaan harus tuntas. Karena kabarnya tanggal 7 Juni mendatang sudah dibuka. Makanya ini dikebut terus,” kata Herry Sukoco, mandor proyek pembangunan plengsengan di ruas jalur tol tersebut.

Sukoco menegaskan, jembatan itu sudah tuntas sekitar sebulan lalu. Sehingga sudah bisa digunakan untuk mudik lebaran kali ini. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tol Malang-Pandaan (Mapan) sudah bisa dilintasi separo. Disebut separo karena yang di arena Malang hanya bisa dilintasi sejak kilometer 22 di Sumber Wuni, Kecamatan Lawang, hingga kilometer 30 di Karanglo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dengan demikian, ada sekitar delapan kilometer jalan tol yang berfungsi.

Kendati demikian, jalan tol ini diyakini efektif memecah kemacetan di Jalur Lawang-Singosari. Setiap musim libur lebaran, terjadi kemacetan parah di sepanjang Jalur Lawang-Singosari. Bahkan setiap weekend, juga sering terjadi kemacetan di kawasan tersebut.

Meski jalan tol ini siap dilintasi sebelum lebaran, pantauan koran ini menemukan beberapa kekurangan. Diantaranya adalah tidak adanya pembatas jalan. Selama melintasi jalur sepanjang 8 kilometer ini, pembatas di sisi kiri dan kanan memang dibuat dari kayu yang bercat biru dan putih.

Pembatas sederhana ini dijejer sekitar lima meter. Tujuannya untuk penanda kalau benda tersebut adalah pembatas jalan. ”Iya memang baru adanya seperti itu. Tapi sudah bisa digunakan,” kata Lutfianto, salah seorang petugas keamanan yang melintas di tempat tersebut.

Tidak hanya itu, untuk marka jalan juga belum ada. Sehingga, jalan tol ini masih berupa beton berwarna kecoklatan. Meski berupa beton, tapi konturnya sudah merata. Sehingga tidak bergoyang ketika dilintasi kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Selain itu, penerangan juga belum ada. Agar tidak membahayakan pengguna jalan, sementara ini pengoperasionalannya dilakukan pada pagi hingga sore hari. ”Informasinya dari pagi hingga tutup pukul 17.00,” imbuhnya.

Pernyataan Lutfianto tersebut dibenarkan oleh Agus Purnomo, Dirut PT Jasa Marga Pandaan-Malang. Saat dikonfirmasi, Agus membenarkan bahwa jalur tol dari Sumber Wuni menuju Karanglo akan beroperasi sejak pukul 07.00 hingga 17.00. ”Jelas, kalau malam tidak akan beroperasi,” kata dia melalui sambungan telepon.

Dia menegaskan, kalau jalan ini bahasa formalnya bukan jalan tol yang beroperasi. Tapi, jalan proyek yang digunakan dalam rangka lebaran. ”Makanya nanti penggunaannya kita akan berkoordinasi dengan Dishub (dinas perhubungan) dan kepolisian,” imbuhnya.
Disinggung mengenai beberapa perlengkapan yang kurang, Agus mengakui bahwa persiapannya tergolong minimalis. ”Ya namanya saja jalan proyek, seperti pembatas jalan memang ada, makanya kecepatan pengendara dibatasi,” imbuhnya.

Pembatasannya menurut dia adalah 60 kilometer per jam. Dengan demikian, jika ada pengendara yang ugal-ugalan di jalan tol ini akan ditindak oleh petugas jaga. ”Untuk marka jalan memang belum ada, makanya kecepatan kita batasi,” imbuhnya.

Sedangkan untuk jalan tol yang dibelah oleh jalan desa di Dengkol, menurut Agus nantinya akan ada supeltas yang menjaga. ”Tidak ada lampu merah, karena kalau orang yang menjaga nanti bisa lebih fleksibel,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jalan Tol Mapan tidak bisa seratus beroperasi karena ada berbagai kendala. Diantaranya, jembatan belum terpasang di Lawang. Ada juga tebing yang belum dikepras. Pengamatan wartawan koran ini, pengerukannya kurang sekitar 13 meter lagi. Sehingga, dibutuhkan waktu hingga 3-5 bulan lagi.

Sumber : http://www.radarmalang.id/