September, Ciputra Lansir Rumah Berpanorama Gunung Kawi - CitraGarden City Malang

September, Ciputra Lansir Rumah Berpanorama Gunung Kawi

Segmen pasar menengah atas masih menjadi katalisator pertumbuhan sektor properti di Indonesia.

Hal ini terbukti dengan penjualan 160 unit klaster Green Hill dan 30 unit The Peak di CitraGarden City, Malang, secara kilat hanya dalam waktu 6 jam.

Padahal, harga yang ditawarkan cukup menguras kantong kelas menengah yakni Rp 500 jutaan hingga Rp 800 jutaan untuk klaster Green Hill, dan Rp 1 miliar-Rp 3 miliar untuk The Peak.

Puas dengan catatan penjualan sempurna tahap I dan II, PT Ciputra Residence, sang pengembang melansir klaster The Peak tahap III dengan banderol di bawah Rp 1 miliar sebanyak 220 unit dan Rp 1 miliar-Rp 3 miliar sejumlah 60 unit.

Klaster ini pun terjual habis dalam hitungan jam, sehingga yang selanjutnya dilakukan Ciputra Residence adalah merealisasikan pembangunan 500 unit hunian tersebut di atas lahan seluas 20 hektar.

Menurut Associate Director PT Ciputra Residence Yance Onggo, terserapnya produk-produk CitraGarden City Malang karena segmen pasar yang dibidik memang membutuhkan hunian. ”

Mereka bukan investor yang menunda pembelian karena situasi ekonomi makro. Pembeli CitraGarden City Malang adalah end user yang betul-betul membutuhkan rumah,” cetus Yance menjawab Kompas.com, Rabu (15/8/2018).

Selain itu, lanjut Yance, waktu (timing) dilansirnya CitraGarden City Malang bertepatan dengan masa-masa bulan madu sektor properti yakni Oktober 2015.

Faktor lain adalah branding Ciputra yang melekat di benak publik, pengembangan infrastruktur konektivitas yang memudahkan akses dari dan menuju Kota Malang, serta konsep pengembangan yang memiliki diferensiasi dengan produk sejenis.

Pengembangan infrastruktur yang dimaksud adalah ruas Tol Pandaan-Malang yang merupakan bagian dari jaringan Tol Surabaya-Malang, pelebaran Jalan Mayjen Sungkono dan Jalan Ki Ageng Gribig di Kota Malang Timur, serta renovasi Bandara Abdurrachman Saleh.

Panoramik

CitraGarden City Malang menempati area seluas total 100 hektar di Jalan Mayjen Sungkono, Malang Timur.
Lahannya yang berkontur dan berada 541 meter di atas permukaan laut, memungkinkan Ciputra Residence menerapkan konsep urban resort dengan nilai jual panorama alam Gunung Kawi.

“Kondisi lahan berkontur ini menjadi keunggulan CitraGarden City. Penghuni dapat menikmati keindahan alam saat matahari terbit (sunrise) dan tenggelam (sunset) tanpa terhalang bangunan apapun,” jelas Yance.

Menyusul catatan serapan maksimal tiga klaster sebelumnya, Ciputra Residence akan melansir klaster anyar The Valley pada pertengahan September mendatang.


Sebanyak 160 unit The Valley dikembangkan yang terdiri dari tiga tipe yakni 26/72 meter persegi seharga Rp 564 juta, 33/72 dipatok senilai Rp 584 juta, 43/84 Rp 691 juta, dan tipe 50/96 dipasarkan Rp 802 juta.

Lokasi The Valley berdekatan dengan taman tematik, children playground, dan town center yang mencakup eco club house, eco park, hotel, dan restoran.

Dari pemasaran The Valley, Ciputra Residence menargetkan penjualan Rp 100 miliar.

Pembangunan The Valley berikut fasilitas eco club house, dan eco park senilai Rp 65 miliar, dimulai pada Desember mendatang.

“Serah terima dua tahun kemudian. Sementara tiga klaster awal sudah serah terima sejak 2017 dengan tingkat hunian 40 persen,” tambah Yance.

Jika kelak keseluruhan kawasan hunian ini terbangun, Yance menghitung, nilai investasinya bakal mencapai Rp 1,7 triliun.

Rinciannnya 50 hektar pertama yang terdiri dari 9 klaster dengan 1.500 unit rumah senilai Rp 1 triliun, dan sisanya Rp 700 miliar.

Nilai investasi ini di luar lahan, yang sudah dimiliki pengembang sejak 2013 silam.

Kenaikan harga

Perubahan orientasi pengembangan ke arah timur memotivasi Ciputra Residence untuk mengembangkan perumahan perdananya di kota apel ini.

Seluruh infrastruktur tersebut di atas, berada di kawasan timur, yang menjadikan lokasi CitraGarden City diklaim sangat strategis.

“Kami hanya berjarak 5 kilometer dari Bandara Abdurrachman Saleh, dan 5 kilometer ke pusat kota atau alun-alun,” ujar Yance.

Dengan lokasi strategis dan pengembangan fisik infrastruktur yang demikian masif, mendorong harga lahan dan properti di Malang Timur mengalami kenaikan signifikan.

Untuk harga lahan, saat ini sudah bertengger di angka Rp 4,5 juta per meter persegi dari sebelumnya pada 2014 hanya Rp 2,7 juta per meter persegi. Ini berarti kenaikannya mencapai 62 persen.

“Sementara harga propertinya masih relatif normal yakni sekitar 20 persen per tahun,” imbuh Yance. .

(sumber : https://properti.kompas.com/read/2018/08/15/180000221/september-ciputra-lansir-rumah-berpanorama-gunung-kawi)